Selasa, 21 Maret 2017

Bocor, Surat Instruksi PDIP Menangkan Ahok-Djarot. Seluruh Pengurus PDIP di Indonesia Akan Menginfiltrasi Jakarta


Arahkompas.com - Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPP-PDI Perjuangan) menerbitkan surat keputusan (SK) yang memuat instruksi dan penugasan pemenangan Pilkada DKI Jakarta Putaran kedua untuk memenangkan pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat.

"Mencermati dinamika perkembangan politik DKI Jakarta menjelang pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta Putaran ke-2, maka bersama ini DPP PDI Perjuangan menginstruksikan serta menugaskan seluruh Pimpinan dan Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten/Kota se-Indonesia," demikian bunyi SK tersebut.

SK tertanggal 16 Maret 2017 yang ditujukan kepada Pimpinan dan anggota fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten/Kota se-Indonesia itu beredar di media sosial. Terdapat empat instruksi serta penugasan untuk Pimpinan dan anggota fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten/Kota se-Indonesia.

Pertama, menginstruksikan Pimpinan dan Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten/Kota se-Indonesia untuk berperan aktif dan mengerahkan segala upaya dalam memenangkan Pilkada pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Ahok-Djarot, pada putaran kedua.



Kedua, menugaskan Pimpinan dan Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten/Kota se-Indonesia untuk datang ke Jakarta pada 10 Maret hingga 19 April 2017 terkait pemenangan pasangan Ahok-Djarot.

"Pimpinan dan Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten/Kota seluruh Indonesia dari tanggal 10 Maret 2017 hingga 19 April 2017 untuk datang ke Jakarta membaur dengan masyarakat membantu struktural, kader, relawan, simpatisan PDI Perjuangan di Pilkada DKI Jakarta untuk memenangkan pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta yaitu Ir Basuki Tjahaja Purnama, M.M dan Drs. H. Djarot Saiful Hidayat, M.S, pada Putaran kedua," seperti dimuat dalam SK tersebut.

Selanjutnya, Pimpinan dan Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten/Kota se-Indonesia diminta untuk merapatkan barisan, menjaga solidaritas dan terus membangun komunikasi yang baik di antara struktural, kader, simpatisan, relawan dan tokoh masyarakat serta tokoh agama di Jakarta dalam upaya pememangan Pilkada pasangan Ahok-Djarot pada putaran kedua.

Terakhir, SK tersebut memuat sanksi yang diberikan oleh DPP Partai kepada Pimpinan dan Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten/Kota se-Indonesia yang tidak mengindahkan seluruh instruksi dan penugasan tersebut.

"Bagi Pimpinan dan Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten/Kota seluruh Indonesia yang tidak mengindahkan instruksi dan penugasan ini, maka DPP Partai akan memberikan sanksi organisasi seusai dengan AD/ART dan Peraturan Partai," sebut SK itu.

Merinding! Habib Rizieq dan Puluhan Ribu Muslim Kebayoran Lama Sumpah Setia Pilih Gubernur Muslim


Arahkompas.com - Imam Besar Front Pembela Islam Habib Rizieq Shihab memimpin puluhan ribu Umat Islam Kebayoran Lama untuk sumpah setia memilih Gubernur Muslim.

Sumpah Setia karena Allah ini dilakukan pada saat acara ISTIGHOSAH, TABLIGH AKBAR DAN DOA BERSAMA di lapangan Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Ahad (19/3/2017).

Berikut ini isi Sumpah setia karena Allah yang dipimpin oleh Habib Rizieq dan diikuti oleh puluhan ribu umat Islam yang hadir dalam acara tersebut:

“Demi Allah, kami bersumpah dan kami berjanji. Kami akan hanya memilih Pemimpin Muslim. Demi Allah, kami bersumpah, kami berjanji, bahwasanya kami tidak akan mendukung atau membela atau memilih atau memenangkan calon gubernur kafir untuk memimpin Jakarta. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan atas sumpah dan janji kami ini. Dan sesungguhnya Allah sebaik-baiknya yang menyaksikan. Takbir, Allahu Akbar”.

Berikut ini video saat Habib Rizieq mempin Sumpah Setia karena Allah.



[VIDEO Ceramah Habib Rizieq]


TANGGAPAN TELAK Warga Jakarta Buat AHOKER Yang Berlagak Sok Paling PLURALIS


Arahkompas.com - Tulisan Geisz Chalifah, warga Jakarta, di akun fb-nya (20/3/2017).

"Sy tak membahas orang banyak, status ini sy tujukan hanya pada orang2 pendukung Ahoker yg saya kenal yg berlagak sok paling pluralis.

Agak janggal melihat keangkuhan mereka di media sosial. Latar belakangnya udik, masuk jakarta baru bbrp tahun, umumnya cari kerja lalu gabung di LSM atau jadi staf di berbagai tempat apa itu lembaga penelitian dsbnya.

Kalau kebetulan lagi kumpul lalu kami (anak Jakarta) cerita masa masa SMA dan situasi saat itu. Mereka cuma pendengar pasif. Mereka ga tau sejarah Bulungan dan kreatifitasnya. Mrk juga ga faham antara jembatan semanggi sampai bundaran HI tempat er eran dimasa itu. (gue ga mau terjemahkan apa itu itu er eran) krn mereka mmg ga faham.

Lucunya sekarang ini mrk para udik itu sok bergaya paling modern sok paling pluralis sambil mengajarkan kita menjadi umat islam yg pro kebhinekaan.

Aneh bin ajaib, dari masih kecil kita di jakarta sdh terbiasa dgn perbedaan. Sudah terbiasa dgn yg namanya bertetangga dan bermain dgn yg berlainan agama dsbnya. Lah sekarang mereka ngajarin kita utk hal semacam itu. Udik jongoser Ahoker itu mmg ga tau diri."

(Geisz Chalifah)

sumber: fb penulis


Habib Syech Mengingatkan Bahaya Orang-orang Liberal yang Ngaku NU Tapi Menjelek-jelekkan Islam


Arahkompas.com - Ulama Mustasyar NU, Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf mengingatkan bahaya orang-orang liberal yang ngakunya NU, nagkunya AHLI SUNNAH, tapi sesungguhnya AHLI DHOLALAH (Sesat).

"Ngakune yo NU... ngakune Ahli Sunnah, tapi khutbah di gereja. Wong ra waras kuwi. Jangan ikut-ikut orang seperti itu. Mereka mengaku Ahli Sunnah. Bukan Ahli Sunnah tapi Ahli Dholalah."

"Ini mulai terjadi di Indonesia.. Orang-orang Liberal yang mengatakan semua agama itu sama. Iki wong-wong sing uteke rusak (otaknya rusak)."

"Saat ini banyak orang-orang NU yang otaknya mulai dirusak oleh orang-orang luar yang mereka mengatakan semua agama sama. Mereka dakwah didalam gereja. (Itu) Bukan dakwah tapi justru menghina agama Islam didepan orang-orang kafir."

"Hati-hati, mulai banyak orang-orang yang mengaku NU tapi rusak. Saya tidak peduli dia Kyai atau Habib. Siapapun yang melakukan seperti itu ojo dicedaki (jangan didekati), didohi (tapi dijauhi)."

"Mereka penyakit-penyakit yang ada di negeri ini. Mereka yang akan merusak bangsa kita dengan dalil toleransi. Sebenarnya mereka tidak toleransi justru mereka menjual agama Islam kepada agama-agama lain dengan mencari duit."

Berikut selengkapnya VIDEO:

KETIKA NAJWA TAK BERDAYA

KETIKA NAJWA TAK BERDAYA

Selain menjadi acara diskusi, program Mata Najwa juga dikenal sebagian kalangan sebagai ajang pembantaian terhadap narasumber. Pembicara yang hadir kerap tak berkutik dan dipermalukan saat dicecar Najwa Shihab dengan sorot matanya yang tajam.

Semalam giliran pasangan Anies-Sandi yang menjadi sasaran. Meski sang pemilik Metro TV jelas berafiliasi dengan calon lain, Anies-Sandi tetap menerima undangan sekaligus tantangan untuk hadir. Saya baru menyaksikan tadi siang via Youtube, karena semalam harus meeting bersama relawan Roemah Djoeang.

Benar saja, di awal segmen Najwa sudah mencecar Anies terkait pertemuannya dengan Habib Rizieq. Presenter cantik selera saya ini seakan menggiring opini publik bahwa Anies-Sandi telah berkoalisi dengan FPI. "Anda di sana berkampanye dan meminta FPI agar memilih Anda?" tanya Nana, sapaan akrab Najwa.

"Kemanapun saya hadir saat ini sebagai cagub. Jangankan di acara FPI, di acara Mata Najwa pun saya akan berkampanye agar pilih nomor tiga," begitu kira-kira jawaban Anies. Jleb... Penonton tepuk tangan dan Nana terdiam.

Dalam kesempatan tersebut, Nana juga berusaha membantai Anies-Sandi seputar salah satu visi-misinya yang menolak reklamasi. Ya, Anies-Sandi memang satu-satunya pasangan yang secara tegas menolak megaproyek tersebut. Nana mencecar bagaimana dampak bila proyek tersebut dibatalkan. Baik nasib pengembang atau pun konsumen.

Sandi menjawab dengan santai, setiap akad jual beli pasti ada perjanjian yang di dalamnya tertuang pasal pembatalan. Bagi Sandi cukup taati saja perjanjian tersebut dengan difasilitasi


pemerintah. Nana tak puas, dia tetap mencecar dengan berbagai pertanyaan, hingga akhirnya Anies mengeluarkan pernyataan kejutan.

"Dulu pahlawan kita menolak kolonialisme karena diyakini tidak baik. Mereka melawan dan tidak memikirkan bagaimana cara mengelola negara jiwa merdeka. Begitu pun dengan reklamasi, kami merasa ada yang tidak baik dengan proyek ini makanya kami menolak. Persoalan bagaimana kedepan pasti ada jalan," tegas Anies yang kembali disambut tepuk tangan meriah.

Dan yang paling menohok bagi saya adalah ketika Ahok menilai Anies hanya bermodal retorika dan kata-kata, tetapi minus praktik. Bahkan Ahok menyindir Anies bak seorang dosen yang hanya bermodalkan teori.

"Mari kita lihat. Pada 2015 saya dan Pak Ahok sama-sama mendapat amanat anggaran selaku penyelenggara negara. Pak Ahok hanya bisa menjalankan anggaran dengan pencapaian kurang dari 70 persen, sedangkan saya bisa di atas 90 persen. Ini faktanya," jawab Anies dengan ekspresi yang tetap cool.

Selain persoalan di atas, Nana juga membrondong pertanyaan kepada Anies-Sandi dengan berbagai isu-isu lain. Mulai dari KJP, KIP, independensi dan lain sebaginya. Semua pertanyaan yang diajukan dapat dijawab dengan cerdas dan tuntas. Anies-Sandi berhasil melalui talkshow yang disiarkan secara langsung ini dengan kualitas diri yang mereka miliki.

Semalam Najwa Shihab selaku tuan rumah Mata Najwa gagal menjadi bintang panggung. Putri ulama Quraish Shihab ini hanya berperan layaknya sebagai penanya biasa. Bukan karena dia kehilangan daya kritis dan kecerdasannya, melainkan tamu yang ditanya mampu menjawab dengan cerdas, berbasis data dan cakap dalam menguasi emosi.

Di akhir catatan, saya ingin mengutip pernyataan tokoh anti korupsi yang juga tim sukses Anies-Sandi dalam acara semalam. "Tugas pemerintah bukan hanya menciptakan sekolah tetapi juga harus membentuk karakter siswa. Bagaimana anak muda bisa berkarakter baik bila memiliki pemimpin yang sering minta maaf karena ucapannya yang tak terjaga," demikian kata Mas BW.

Anies-Sandi Insya Allah menang....

(Oleh: Tb Ardi Januar)
Senin, 20 Maret 2017

[VIDEO Iklan Berbahasa Mandarin] Pulau Reklamasi Ditargetkan Jadi Wadah Baru Koloni Tiongkok


Arahkompas.com - Di tangan Ahok cs, pulau-pulau palsu hasil reklamasi Teluk Jakarta dikabarkan telah diiklankan di Tiongkok.

Asumsinya, pulau palsu itu akan dibeli Chinese upper class. Mereka akan membentuk koloni di sana. WNI akan diserap menjadi pembantu.

Pribumi komprador akan bekerjasama dalam bisnis. Menjadi second player. Suplier raw material. Saya kira, proyeksi ini bukan impian Presiden Suharto. Umumnya, kolonialisasi (penjajahan) menggunakan kekuatan senjata. Invasi. Sejak abad 15, Eropa lakukan itu.

Ada beberapa jenis kolonialisasi. Settler colony, dependency, plantation dan trading post colony. Australia adalah contoh settler colony, di mana terjadi pemindahan penduduk secara masif. Akhirnya, new comers lebih banyak dari pribumi. Kolonialisasi sukses. Aborigin jadi paria di negeri sendiri. Ngga bisa apa-apa, diinjak rasial sovinisme bule dan common wealth.

Dependency colony diciptakan via tekanan senjata oleh colonizer yang mengendalikan pemerintahan lokal. India contohnya. Budak-budak Afrika dikirim ke Jamaica ngebon di kebun-kebun pisang, tebu, kopi dan sebagainya. Semakin lama, secara bergenerasi, mereka membentuk koloni. Jenis kolonialisasi ini disebut plantation colony.

Tipe terakhir kolonialisasi adalah trading post seperti Singapura. Motif awal kolonialisasi ini adalah niaga. Lama-lama pribuminya jadi minoritas dan termarginalisasi.

Pulau reklamasi berfungsi sebagai Terra nullius (empty land). Koloni baru bisa dibangun di sana. Pak Harto mungkin tak mengira para taipan dan jenderal kolaboratornya akan masuk proyek yang dia inisiasi.

Bila benar, pulau reklamasi akan diisi penduduk dari Tiongkok maka itu akan jadi ancaman geo strategis. Ratusan ribu colonizer tepat berada di depan istana. Kekuatan uang mereka mudah jangkau pusat politik negara. Polisi dan tentara bakal jadi centeng. Tionghoa WNI menjadi kolaborator mereka. Negara pasti jatuh ke tangan “the bamboo network".

Berikut videonya:

Penulis: Hilman Hendrika, Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak)


[RMOL]