Belajar dari Pilkada Banjarnegara, Ahok Bisa Menang

shares

Arahkompas.com - Kebangkitan masyarakat Tionghoa di Indonesia itu nyata, bukan sebuah fobia. Saya telah merasakannya. Pilkada Banjarnegara dimenangkan oleh WNI keturunan Cina. Dia bukan siapa-siapa kecuali seorang WNI keturunan yang kaya raya dengan background seorang pemborong infrastruktur sukses.

Pada 2011, kami berhasil menang. Tetapi pada 2017 kami gagal. Sebabnya, yang kami lawan bukan hanya dia seorang yang didukung Golkar, Demokrat, dan PPP kubu Rommy! Solidaritas Tionghoa luar biasa. 90 persen etnis Tionghoa mendukungnya dengan segala yang dimiliki. Tionghoa Jakarta turun mengeroyok kami: Anton Medan, Hary Tanu, dan banyak taipan kerahkan kekuatan untuk sebuah kabupaten di pedalaman Jawa Tengah.

H-10 menurut survei berbagai lembaga, saya masih unggul. Tapi, setelah itu hujan uang tak terbendung. Sekuat-kuat kami bertahan, rakyat yang miskin dan lemah pemahaman kepemimpinan, goyah oleh uang Rp 100 hingga Rp 300 ribu per orang. Bahkan Ketua RT mencapai Rp 500 ribu.

Dari 600 ribu pemilih, lawan saya siapkan 450 ribu amplop untuk disebar, belum termasuk untuk kader. Ini bukan kira-kira, tapi atas pengakuan yang bersangkutan kepada saya beberapa hari pasca-pilkada. Anehnya, tak satu pun yang bisa dipersoalkan. Semua laporan ke panwas tidak diproses. Operasi tangkap tangan (OTT) pun semua mental di meja aparat hukum. Semua diberi, semua terbeli. Ketua FPI Banjarnegara yang mencoba melakukan perlawanan justru dipolisikan. Semua diberi, semua dibeli.

Anies-Sandi di Jakarta harus menang. Tapi, lakon Banjarnegara jangan terulang:
1). Puas dengan hasil survei
2). Membiarkan politik uang
3). Rendahnya solidaritas pribumi/umat Islam.

Maka, Ahok akan menang, jika kita hanya berhenti menggrundel, memaki-maki, dan main share postingan hoax di medsos. Ingat, untuk menang di Jakarta cukup membeli 4 juta pemilih X Rp 1 juta per pemilih. Jika untuk kabupaten "kecil" Banjarnegara mereka berani beli Rp 50 milyar, untuk ibu kota berapa pun akan dilakukan.

Maka lakukan sekarang juga: telepon, SMS, WA, line, dan sebagainya, saudara, teman lama, kenalan dan lain-lain yang ada di Jakarta. Pastikan mereka melakukan gerakan, jaga lingkungan, lakukan perlawanan untuk menangkan Anies-Sandi....

Tanpa gerakan masif dan solidaritas kuat, jangan kaget: Ahok bisa menang.

Saya bukan seorang rasis. Saya bersahabat baik dengan orang-orang Tionghoa. Tapi, ini soal kebangkitan etnis. Ini soal masa depan sebuah bangsa yang berwatak ekspansionis manusia, dan kultur. Prakiraan bupatinisasi Cina, lalu gubernur, dan akhirnya presiden bukan spekulasi, bukan sebuah fobia. Dengan serius mereka katakan pada saya: "Kami akan kembalikan tahta kekuasaan jika orang pribumi sudah siap."

Lakukan yang konkret sekarang kawan! Telepon, SMS, WA, kepada kawan atau saudara, atau datang fisik ke Jakarta, bantu dan pastikan Anies-Sandi menang.

Walaupun kalah, saya telah berjihad melakukannya. Kapan lagi, Anda juga? Inilah saatnya. Jakarta akan membuktikannya.

Tanpa itu, kita akan menyesal selamanya!

Hadi Supeno
Aktivis HMI Yogya 1980-an

Related Posts