Kasus Teror Novel Baswedan, Kontras: Infonya Sudah Banyak, Tinggal Polisi Mau Bongkar atau Tidak

shares

Arahkompas.com - Kepolisian mengklaim telah memperoleh petunjuk tentang sejumlah orang yang diduga menyerang penyidik utama Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan, Selasa pagi, 11 April 2017. Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Mochamad Iriawan mengatakan timnya mengantongi foto beberapa orang yang akhir-akhir ini disinyalir menguntit Novel. “Kami akan mengecek korelasi mereka dengan pelaku penyerangan,” kata Iriawan di kantornya, Rabu, 12 April 2017.

Iriawan mengatakan foto beberapa orang tak dikenal tersebut diperolehnya dari Novel, yang sudah merasa curiga dikuntit orang sejak dua pekan lalu. Foto tersebut dia tunjukkan kepada sedikitnya 15 saksi untuk mengidentifikasi penguntit dan mencocokkannya dengan ciri-ciri pelaku penyiraman air keras. Timnya juga masih menguji jenis air keras lewat temuan cangkir kaleng di sekitar lokasi kejadian, yang diduga digunakan para pelaku.

Saat memimpin apel di lapangan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, kemarin, Iriawan meminta anak buahnya bekerja cepat mengungkap kasus ini. “Segera ungkap, masyarakat menunggu. Jangan sampai blunder terlalu lama kita mengungkap ini,” ujarnya.

Sumber Tempo mengungkapkan, Novel memang pernah mengeluhkan terus diikuti orang tak dikenal beberapa hari terakhir. Karena itu, ia selalu mengambil jalan berbeda ketika pulang dari kantor. Kamera pengawas pun terpasang di rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Namun CCTV tak merekam penyerangan yang terjadi sekitar 15 meter dari rumahnya itu. Petunjuk yang terekam, dua orang berboncengan sepeda motor melewati rumah Novel dari arah berlawanan, setengah jam sebelum kejadian.

Beberapa tetangga Novel bercerita melihat beberapa orang tak dikenal kerap berseliweran tak jelas tujuannya di lingkungan itu. Mereka biasa menunggangi sepeda motor bebek dan duduk di pelataran Madrasah Al Ihsan, yang terletak di seberang Masjid Al Ihsan, dekat rumah Novel.

Seorang penguntit berpostur tinggi dan kurus. Seorang lainnya pendek dan gemuk. “Saya sempat lihat, sekitar dua bulan yang lalu,” kata Lomri, tetangga Novel. Imam Masjid Al Ihsan, Abdur Rahim Hasan, meyakini dua orang dengan ciri-ciri tersebut pula yang menyiramkan air keras ke muka Novel selepas salat Subuh berjemaah, Selasa lalu. “Kemarin, sesaat sebelum kejadian, saya lihat yang gemuk sedang kencing,” kata Hasan.

Mantan Ketua KPK, Busyro Muqoddas, mendesak Presiden Joko Widodo membentuk tim pencari fakta independen untuk mengusut dalang teror yang dialami Novel. “Langkah membentuk tim gabungan itu perlu untuk memburu dalang secara independen dan bebas intervensi,” katanya.

Busryo mengatakan penyiraman air keras terhadap Novel bukan teror pertama yang dialami penyidik lulusan Akademi Kepolisian 1998 itu. Novel setidaknya dua kali menjadi korban tabrak lari, yang pelakunya tak pernah terungkap oleh kepolisian. Terakhir kali dia cedera setelah sepeda motornya diseruduk mobil Avanza ketika berangkat dari rumah menuju kantor KPK, pertengahan tahun lalu atau pada 2016.

Wadah Pegawai KPK dan Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) pun mendesak Jokowi membentuk tim independen. “Informasi tentang penyerangan ini sudah banyak. Tergantung polisi akan membongkar kasus ini atau tidak,” kata Haris Azhar dari Kontras. “Kalau tidak ada niat ke sana, sebaiknya dibentuk tim independen. Kasus teror ini harus tuntas.” (TMP)

Related Posts