Adsense Header

Racun King Kobra bisa bunuh manusia dalam hitungan menit


Arahkompas.com-King Cobra, merupakan reptil berbahaya yang memiliki racun atau lebih dikenal dengan 'bisa' sangat mematikan dan ditakuti spesies di lingkungan hutan. Hewan ini juga bukan tipe penyerang manusia, kecuali diserang lebih dahulu. Dia akan membalas dengan mematok bahkan mengejar siapa saja yang mengganggu tempatnya berdiam diri.

"Jadi kalau ada hewan atau pun orang yang mengganggu tempatnya istirahat, biasanya akan dikejar sampai dapat lalu dipatok. Racun yang dimilikinya sangat cepat bereaksi, dalam hitungan menit akan mematikan mangsanya," ujar Tohar, salah seorang Sekretaris Rajawali Reptil Community (Retic) saat berbincang dengan merdeka.com Kamis (6/4).

Biasanya, King Kobra berdiam diri di tempat yang lembap dan terhindar dari sinar matahari. Seperti misalnya di tumpukan daun kering yang dingin, serta di pohon bambu yang berada di tengah hutan. King Kobra memilih lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk untuk menghindari bertemu manusia.

"Biasanya King Kobra akan menghindar dari manusia. Makanya dia cari lokasi yang jauh dari rumah masyarakat. Memang tempatnya berdiam diri tidak kena sinar matahari. Tapi ada saatnya dia butuh sinar matahari itu untuk menghangatkan tubuhnya," kata Tohar.

King Kobra mencari tempat untuk menghangatkan tubuh jauh dari tempatnya berdiam diri, yakni di lokasi yang terbuka dan terkena langsung sinar matahari. Itu dilakukannya pada pagi hari, ular itu akan berjemur selama beberapa jam.

"Namun, saat dia berjemur dan jika ada manusia yang datang, dia akan mendengar gerakannya dan berusaha menghindar. Dia tidak akan menyerang, karena dia sadar lokasi itu bukan wilayah kekuasaannya," ucap pria pecinta ular sejak duduk di bangku Sekolah Dasar tersebut.

Meski demikian, kata Tohar, jika melihat King Kobra sedang melintas atau berjemur sebaiknya menjauh darinya. Ular itu akan melawan jika nyawa dia terancam, tidak semua orang memiliki keahlian dalam menangkap King Kobra.

"Lebih baik kita menghindar jika melihat King Kobra, jangan mengambil resiko. Racun yang dikeluarkannya melalui gigi taring akan lebih cepat mematikan manusia di banding ular lainnya," jelas mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi sawasta di Riau ini.

Menurut Tohar, King Kobra dengan ular Kobra biasa tidak sama. Meski perbedaan mereka tidak terlalu jauh, namun kedua spesies ini memiliki keturunan yang berbeda pula. Bahkan cara mereka menyerang musuh dan bertahan hidup serta habitatnya juga lain.

"Kalau Kobra biasanya berdiam diri di lobang-lobang, tumpukan kayu bekas, pelepah sawit yang kering. Meski tidak terlalu jauh dengan pemukiman warga, Kobra juga selalu menghindar dari manusia. Kecuali nyawa dia terancam," ucapnya.

Perbedaan antara kedua ular itu juga dari cara awal menyerang lawannya. Kobra terlebih dahulu menyemburkan racunnya, biasanya yang disembur adalah mata. Tidak menutup kemungkinan juga tangan dan kaki yang berusaha menyerangnya.

"Semburan Kobra tidak bahaya kalau kena tangan dan jika tidak ada bekas luka. Cairan racun yang disemburkan itupun tidak boleh digaruk. Kalau kena mata, jangan langsung dikucek karena itu berakibat fatal. Tapi kalau King Kobra yang mematok, itu dalam hitungan menit jika tidak diobati akan meninggal," terang dia.

King Kobra dan ular kobra biasa juga berbeda keturunan. Jika bertelur, anak King Kobra tetaplah memiliki nama seperti induknya. Sedangkan Kobra biasa, tidak akan pernah bisa menjadi King Kobra meski bentuk tubuhnya lebih sedikit besar dari spesises sejenisnya.

Tohar menyarankan, jika terkena semburan bisa atau dipatok Kobra dan King Kobra, segeralah menuju rumah sakit atau klinik dan tempat pengobatan lainnya. Pertolongan pertama, jika kaki atau tangan yang dipatok, ikatlah pergelangann agar menghambat racun menuju seluruh tubuh.

"Intinya, kita semua harus hati-hati jika berada di semak belukar dan hutan, atau tempat yang lembap di lokasi itu," jelas pria berusia 22 tahun itu.

Perlu diketahui, lanjut Tohar, semua jenis ular tidak takut dengan garam maupun bambu. Malahan, pohon bambu yang tumbuh dengan lebat di dalam hutan menjadi sarang King Kobra. Jika ada orang yang menyebutkan ular akan lari jika dipukul bambu, itu karena ular memang merasa sakit dipukul benda apapun seperti kayu dan besi serta lainnya.

"Menurut kami itu hanya mitos, ular tidak takut garam dan bambu. Kalau masuk ke rumah, segeralah diusir, jika perlu hubungi teman yang berani atau ahlinya. Kami juga siap membantu warga yang ingin mengusir ular dari dalam rumah," kata dia.

Komunitas Retic yang diikuti sejumlah pemuda dan mahasiswa ini merupakan pecinta hewan reptil seperti salah satunya ular. Mereka sering tampil membawa reptil peliharaannya ketika diundang dalam suatu acara.

"Kami juga selalu datang membawa reptil kami di kawasan Car Free Day, Jalan Diponegoro Kota Pekanbaru. Ada banyak jenis reptil yang kami miliki, termasuk ular dan iguana serta lainnya," pungkas Tohar.

[merdeka]

Subscribe to receive free email updates: