DEMO OVERDOSIS: Massa Pro-Ahok Kembali Geruduk Pengadilan Tinggi DKI Jakarta

shares

Arahkompas.com - Massa pendukung terpidana kasus penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kembali menggelar aksi di depan Gedung Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Massa mulai berkumpul pada Jumat (12/5) siang, sekitar pukul 14.00 WIB.
Demonstrasi Overdosis
Pantauan Republika.co.id, massa dengan atribut kotak-kotak khas Ahok melakukan orasi dan yel-yel. Mereka beraksi dengan tujuan yang sama dengan aksi sebelumnya. Mereka berharap agar Pengadilan Tinggi mengabulkan penangguhan penahanan Ahok.

"Bebas, bebas, bebaskan Ahok, bebaskan Ahok sekarang juga," ujar massa menyanyikan yel-yel mereka.

Sementara polisi telah mengamanakan sejumlah parameter. Jalur motor daribarah timur menuju barat di Jalan Letjen Suprapto Cempaka Putih Jakarta Pusat pun ditutup karena digunakan untuk parkir massa dan parkir truk polisi. Namun lalu lintas, hingga pukul 2.30 WIB terpantau masih ramai lancar.

Puluhan polisi pun telah disiagakan di halaman gedung Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Berbeda dengan aksi sebelum di tempat dan agenda yang sama, kali ini pagar kawat berduri juga dipasang membentang di depan Gedung Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.

Sebelumnya, massa pendukung Ahok juga melakukan aksi serupa di yempat yang sama pada Rabu (10/5) hingga Kamis (11/5) dini hari. Aksi yang melebihi ketentuan batas aturan polisi pada jam 18.00 WIB itu baru berhasil dibubarkan pada pukul 2.30 WIB dini hari oleh polisi.

Sempat terjadi aksi saling dorong pada aksi sebelumnya. Polisi bahkan sempat melakukan penangkapan sementara sejumlah partisipan agar massa mau membubarkan diri. Akhirnya massa membubarkan diri setelah sempat diteriali warga juga.

Sejak Ahok divonis 2 tahun penjara, aksi para pendukung Ahok digelar setiap hari. Ini mengingatkan akan editorial Metro TV 21 Februari lalu yang menyebutkan aksi umat Islam 212 (21/2) sebagai "Demonstrasi Overdosis".

Berikut salah satu kutipan dari editorial tersebut:

Dengan batasan-batasan tersebut semestinya demonstrasi bukan menjadi sesuatu yang meresahkan, apalagi menakutkan. Bukankah unjuk rasa digelar salah satunya untuk menarik dukungan publik atas tuntutan yang disuarakan pengunjuk rasa? Demonstrasi hanya bisa mengundang simpati jikalau para demonstran menggelarnya secara tertib dan damai. Namun, setertib dan sedamai apa pun, unjuk rasa tetap akan kehilangan empati jika ia digelar terus-terusan dan berlebihan.

Harus kita katakan, publik khususnya di DKI Jakarta sudah mulai terusik oleh demonstrasi yang dalam lima bulan kerap mewarnai denyut kehidupan Ibu Kota. Setidaknya sudah empat kali demonstrasi dalam skala besar terjadi. Aksi pertama berlangsung pada 14 Oktober 2016, kemudian demo 4 November atau dikenal dengan peristiwa 411, 2 Desember atau 212, dan 11 Februari atau 112.


Akankah Metro TV menggunakan istilah yang sama, "Demonstrasi Overdosis" kepada para pendukung Ahok? (R/MET)

Related Posts