Adsense Header

Eep: Sombong, yang Bukan Pendukung Ahok Dianggap Bukan NKRI dan Pancasila

Arahkompas.com - Konsultan Tim Anies-Sandi dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, Eep Saifullah Fatah mengungkapkan rahasia kemenangan Anies-Sandi dalam Pilkada DKI.

Berbicara dalam Seminar “Politik dalam Islam” di Universitas Paramadina, yang menghadirkan pembicara Ferry Mursyidan Baldan (Nasdem) dan Tuan Guru Bajang (Gubernur NTB), Sabtu (20/5), Eep mengatakan, pasangan Anis-Sandi bukan hanya mampu menggaet suara nomor satu, tapi juga mampu merebut suara Ahok.

Di daerah pesisir memang kalau dilihat data per kecamatan Ahok menang pada putaran ke-2, tetapi secara kelurahan lebih banyak kelurahan di pesisir utara yang dimenangkan Anis Sandi, sementara Ahok hanya menang di kelurahan daerah kelas menengah atas.

“Itu artinya isu penghentian reklamasi direspon positif oleh masyarakat. Dan barusan Tuan Guru Bajang membisiki saya juga mendukung penghentian reklamasi”, katanya.

Eep juga membantah kalau kemenangan Anis Sandi karena eksploitasi isu politisasi agama. “Untuk memenangkan Anis Sandi gak perlu kampanye di masjid. Untuk apa? Yang datang ke masjid sudah pasti mendukung Anis Sandi. Jadi untuk apa kampanye di masjid dan mengeksploitasi al-Maidah 51”, katanya.

“Apalagi Panwas selalu mengawasi kami. Kalau pun kami datang ke masjid, itu karena warga mengundang kami dan jumlah mereka sangat banyak sedangkan di kelurahan setempat tidak ada aula yang cukup untuk menampung mereka. Akhirnya mereka memanfaatkan masjid untuk acara kegiatan. Tapi dari situ saya tahu ternyata warga Jakarta tidak bahagia karena tidak punya ruang publik yang representatif selain masjid.”

Menurut Eep, masjid merupakan pusat politik Islam tapi jangan digunakan untuk seruan memilih pasangan tertentu. Masjid menurutnya merupakan tempat dimana kita menyadarkan umat agar menegakkan yang hak, karena tidak ada yang mau menegakkan yang hak kecuali umat Islam.

Eep secara rendah hati menyatakan bahwa kemenangan Anis Sandi bukanlah kemenangan sekelompok orang, tapi kemenangan semua pihak yang telah berkontribusi memenangkan Anis Sandi.

Ia juga mengajak umat Islam untuk tidak lagi menjadi kerumunan, tetapi harus bertransformasi menjadi barisan yang kuat sebagaimana sebuah bangunan yang kokoh.

Mengenai kasus Ahok, Direktur Eksektuf Polmark ini melihat ada keanehan karena sekarang Ahok dijadikan mitos.

“Biasanya seseorang menjadi mitos ketika belum menjadi pejabat. Gus Dur, misalnya, menjadi mitos sebelum menjadi Presiden, tapi saat Gus Dur jadi Presiden sudah menjadi historis. Demikian juga Megawati”.

Eep menambahkan, Ahok dimitoskan sebagai tokoh yang merepresentasikan NKRI, Pancasila dan bhinneka tunggal Ika. Sementara yang bukan pendukung Ahok dianggap bukan NKRI dan Pancasila. Pemitosan seperti ini menurut Eep sebagai sikap yang sombong.

“Ini merupakan pelecehan karena menganggap orang lain gak ngerti Pancasila dan anti NKRI”, tambah dia.

Eep mencontohkan bagaimana saat Soeharto mengasosiasikan dirinya sebagai Pancasila, ada 50 tokoh yang kemudian membuat sebuah petisi. Dikenal sebagai petisi 50 karena tokoh-tokoh itu melihat sikap seperti itu berbahaya bagi kehidupan berbangsa.

Dengan melihat kasus Pilkada DKI, Eep berkesimpulan bahwa incumbency bukan modal memenangkan pemilu kalau tidak dilaksanakan dengan baik. “Sebagai pemimpin seharusnya pak Basuki memberikan contoh yang baik dengan menjaga adab dan perilakunya. Itulah yang kemudian masyarakat menghukumnya pada Pilkada lalu”.

Selain itu kesalahan Ahok adalah cara kampanyenya yang berorientasi pada dirinya sendiri, bukan bagaimana mendengarkan suara masyarakat dan mengorientasikan kampanyenya diarahkan pada kepentingan masyarakat.

Ahok kalah menurut Eep juga karena melanggar keharaman dalam demokrasi yaitu politisasi birokrasi dimana kekuasaan telah membuat aparat menjadi berpihak pada Ahok. Ini dianggap haram oleh demokrasi sehingga direspon negatif oleh pemilih Jakarta. (KAN)

Subscribe to receive free email updates: