Ketua RT Bilang Tak Mungkin Ada Peluru Nyasar ke Rumah Ustad Jazuli, Jadi Polisi Bohong Pak?

shares

Arahkompas.com - Polisi menyebut kematian Bripka Teguh Dwiyatno berkaitan dengan penembakan rumah Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI, Jazuli Juwaini di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Warga sekitar asrama Teguh dan rumah Jazuli mengaku belum pernah terjadi peluru nyasar di wilayah itu.
Sebuah lubang akibat tembakan di kediaman Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI Jazuli Juwaini, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (4/5).
"Belum pernah sih selama saya tinggal di sini. Baru kemarin saja itu denger ada yang nyasar ke rumah pejabat (Jazuli)," ujar M. Ali Nur, Ketua RT 07/01, Kedaung, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (16/5).

Pria berbadan gempal ini sudah menjabat Ketua RT selama tujuh tahun ke belakang. Selama ia menjabat, belum pernah mendengar ada proyektil yang mengenai rumah warga. "Saya di sini sudah dari kecil. Orang asli sini dari tahun 70-an. Lahir di sini. Belum pernah denger," kata Ali yang juga berprofesi sebagai pelatih sepak bola itu.

Terkait apakah mungkin peluru dapat menyasar ke rumah Jazuli dari asrama tempat tinggal Teguh, Ali meragukannya. Menurut dia, jaraknya cukup jauh dan seharusnya sebelum nyasar ke rumah Jazuli, peluru itu akan terhalang oleh bangunan lainnya.

"Dari tempat latihan tembak di belakang itu kan terhalang masjid, pohon, sama rumah tingkat lainnya. Saya rasa sih tidak mungkin. Ya, yang deket saja gak pernah apalagi ke sana," kata Ali menerangkan.

Soal tidak pernah mendengar kabar peluru nyasar juga dikatakan oleh Tri (57 tahun). Tri sudah tinggal di sekitar wilayah asrama itu sejak tahun 1987. Ia sempat mengobrol dengan Republika.co.id saat menyiapkan kompor untuk mulai berdagang.

"Selama saya di sini belum pernah denger ada peluru nyasar ke rumah warga. Saya pindah ke sini barengan sama pindahnya asrama itu ke sini," kata Tri.

Selain mereka berdua, pemilik warung di sebelah rumah Jazuli juga mengaku belum pernah mendengar ada peluru nyasar sebelumnya. Ia baru dengar sekali itu saja. "Kayanya sih belum pernah denger saya. Wah, udah dari tahun 1992 saya pindah ke tempat ini," kata Darmini.

Berdasarkan hasil pantauan Republika.co.id di lapangan, jarak antara asrama itu ke rumah Jazuli sekitar 250 meter. Untuk ke rumah Jazuli dari asrama itu pun harus melewati setidaknya tiga bangunan yang bertingkat.

Belum lagi, tak jauh di sebelah rumah Jazuli ada rumah yang sedang dibangun. Pepohonan pun tidak sedikit yang besar dari arah asrama menuju rumah Jazuli. Ditambah lagi dengan tembok setinggi kurang lebih dua meter untuk membatasi wilayah asrama dengan wilayah luar.

Kepribadian Teguh di Mata Ali

M. Ali Nur, atau biasa disapa RT Ali, mengaku mengenal Bripka Teguh Dwiyatno. Teguh dianggap sebagai orang yang baik. Ia pun kaget ketika tahu korban yang meninggal di dalam garasi itu adalah Teguh. Ditambah lagi, saat kejadian, ia sedang olahraga pagi di dekat tempat kejadian perkara (TKP).

"Kemarin pagi saya lagi lari di sana. Pas lewat belum ada apa-apa. Jam tujuh lewat tiba-tiba ramai saya balik lagi ke tempat itu. Saya kaget tidak tahunya mas Teguh yang ada di situ," ujar Ali.

Ali mengatakan, saksi yang pertama kali melapor ke petugas yang sedang jaga adalah tukang roti. Tukang roti itu lewat depan garasi yang ada darah di depannya.

"Pas balik ke sana kan rameai tuh sampai anak saya juga datang. Daripada anak saya lihat darah-darah saya ajak pulang dia. Sekitar jam delapanan udah gak boleh masuk lagi," kata dia.

Ali mengaku kenal dengan Teguh. Intinya, kata Ali, Teguh merupakan orang yang baik. Tidak terlihat seperti orang yang punya masalah berat di hidupnya. Ia menuturkan, Teguh tinggal bersama keluarganya di asrama itu. "Tinggal sama keluarganya di sana. Istrinya juga tinggal di sana. Kalau saya papasan sama mas Teguh kita saling sapa," kata dia. (R)

Related Posts