Adsense Header

Berjenggot dan Bergamis, 16 WNI yang Dipulangkan dari Filipina Terbukti BUKAN TERORIS

Arahkompas.com - Enam belas WNI yang dievakuasi dari Filipina tiba di Jakarta, kemarin (3/6) malam. Seluruhnya telah dinyatakan clear, tidak terafiliasi dengan kelompok radikal yang menyebabkan konflik di Marawi, Filipina Selatan.
Hanris (kanan) dan Andri (tengah) yang berhasil dievakuasi dari Kota Marawi, Mindanao, Filipina tiba di Bandara Soekarno–Hatta, Tanggerang, Banten, Sabtu (3/5/2017).
Mereka tiba sekitar pukul 22.40 WIB di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Jakarta. Bersama Konjen RI Davao Berlian Napitupulu, para anggota jamaah tabligh ini berangkat dari Manila dengan menggunakan penerbangan Singapura Airlines.

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal menuturkan, seluruh WNI tersebut tidak lagi menjalani proses interogasi. Sebab, mereka telah terkonfirmasi tidak terlibat dengan aksi radikalisme yang terjadi di Marawai maupun Manila.

"Alhamdulillah sudah sampai dengan selamat. Mereka tidak lagi diintrogasi. Tidak ada tindakan mencurigakan," ujarnya ditemui di Terminal 2 D Bandara Soekarno Hatta, kemarin.

Meski begitu, jamaah sempat menjalani pemeriksaan panjang di bandara. Mereka dimintai keterangan terkait empat WNI lainnya yang tengah diburu oleh otoritas Filipina.

"Hanya dimintai info, kalau-kalau pernah tidak sengaja bertemu dengan WNI di Marawi yang diduga terlibat aksi di sana. Mereka sudah setuju juga," tuturnya.

Iqbal mengungkapkan, masih ada satu orang WNI lagi yang akan dipulangkan.  Saat ini yang bersangkutan sudah berhasil diungsikan ke lokasi yang lebih aman.  "Akan dipulangkan terakhir karena dia masih nunggu keluarganya. Kita serahkan ke mereka mau kapan, " ungkapnya. 

Ditemui dalam kesempatan yang sama, Konjen Davao Berlian menyampaikan, butuh waktu tiga hari sejak 29 Mei untuk mengevakuasi para WNI ini. Mereka dievakuasi di dua lokasi berbeda.

"Sebanyak 10 orang di Merantao dan enam orang lainnya dari Sultan Naga Dimaporo, " ujarnya.

Handris, salah satu WNI yang dievakuasi mengaku tak tahu menahu soal konflik yang terjadi.  Dia pun sempat terkaget saat konflik pecah. "Waktu itu sedang di Masjid. Lalu tiba-tiba ada konflik," katanya.

Handris sendiri berangkat ke Filipina melalui Cebu. Di sana,  dia sempat tinggal beberapa lama untuk belajar dan mengamalkan ajaran Islam.  Pria asli Bandung itu kemudian berpindah ke Marawi dengan menggunakan jalur laut.  "Karena kita kan memang berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lainnya," tandasnya. (JAW)

Subscribe to receive free email updates: