Adsense Header

Bukan Hanya Anda, Astronot Juga Susah Tidur

Mengelilingi bumi dengan kecepatan 28.000 kilometer per jam membuat astronot harus mengalami matahari terbit dan terbenam setiap 90 menit sekali. Hal ini membuat mereka kesulitan tidur selama menjalankan misi di luar angkasa.

"Waktu tersebut terlalu cepat untuk jam tubuh beradaptasi, jadi mereka mengalami jetlag terus-terusan," kata Erin Flynn-Evans, ketua Fatigue Countermeasures Laboratory di Wahana antariksa Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat ( NASA).

Sebenarnya, susah tidur akibat jam tubuh yang kacau tidak hanya terjadi pada astronot. Orang-orang yang jamnya kerjanya berubah-ubah seperti dokter, suster, supir luar kota, dan polisi juga mengalaminya.

Akan tetapi, kesalahan yang terjadi di bumi memiliki pengamanan yang lebih baik. Bila dokter salah menulis resep, misalnya, komputer rumah sakit atau staf lain yang bertugas bisa memperbaikinya.

"Ketika Anda di luar angkasa, taruhannya jauh lebih besar. Satu kesalahan kecil bisa membedakan nasib Anda akan hidup atau mati," kata Flynn-Evans.

Berdasarkan penelitian yang ada, rata-rata astronot hanya tidur enam hingga 6,5 jam dalam sehari. Angka tersebut jelas kurang dari tujuh jam yang direkomendasikan. Namun, tidak semua astronot akan terpengaruh oleh waktu tidur yang kurang.

David Dinges, seorang peneliti tidur yang mengajar di University of Pennsylvania Perelman School of Medicine, pernah melakukan sebuah eksperimen simulasi perjalanan luar angkasa yang dinamakan Mars500 bersama Russian Academy of Sciences.

Dalam eksperimen tersebut, enam orang pria diisolasi selama 520 hari atau sekitar 17 bulan untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti di luar angkasa, termasuk berkomunikasi dengan bumi dan berjalan di atas Mars bohong-bohongan. Para peneliti kemudian mengamati pola makan, tidur, dan aktivitas mereka.

Ternyata, keenam pria memiliki respons yang berbeda-beda. Hanya dua di antara mereka yang dapat tidur secara reguler. Sementara itu, satu mengalami insomnia dan satu lagi menjadi lesu dan tidur lebih lama dari yang lain. Satu anggota eksperimen juga menjadi semakin depresi, dan yang terakhir memasuki pola tidur 25 jam yang membuatnya terbangun ketika anggota lain tertidur.

Dinges berkata bahwa kedua orang yang bisa tidur dengan nyenyak adalah mereka yang memiliki rutinitas yang ketat, termasuk waktu untuk makan dan berolahraga, dan menemukan cara lain untuk mengontrol jam biologis.

"Satu-satunya cara untuk membuat jam (biologis) Anda terjaga adalah dengan melakukan rutinitas yang reguler dengan pola makan dan olahraga yang baik. (Tapi) kami tidak tahu mengapa mereka bisa melakukannya, sementara yang lain tidak," ujarnya.

Subscribe to receive free email updates: