Adsense Header

Gus Solah Sebut Ada Masalah Bangsa yang Belum Selesai, Apa Itu?

Arahkompas.com - Tokoh nasional KH. Salahuddin Wahid mengatakan sekarang ini terjadi ada rasa saling tidak percaya dan tersakiti. Rasa ini cukup kuat, bahkan di lingkungan RT atau RW yang biasa guyub sekarang tidak saling akrab lagi. Terutama dengan adanya Pilkada DKI Jakarta.

“Menunjukkan keterbelahan hingga ke bawah. Harus dilakukan sesuatu untuk menurunkan suhu sosial politik. Kalau sudah normal baru dicari sakit apa,” katanya dalam acara Curah Rasa dan Pendapat Para Tokoh Nasional ‘Refleksi Kebangsaan, Rawat Kebhinekaan Untuk Menjaga Keutuhan NKRI’ oleh MPR RI, di Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (13/6).

Menurut Gus Solah sapaan akrab Salahuddin Wahid, setelah 72 tahun merdeka, ternyata ada masalah belum selesai.

“Kita harus cari tahu bersama, apa masalahnya. Blessing in disguise kita mengetahui masalah ini dalam masa tidak sulit,” kata Gus Solah.

Prof. Jimly Ashiddiqie yang pada acara itu bertindak sebagai moderator mengatakan, harusnya setelah Pilkada selesai, dinamika politik juga reda. Pendekatan penegakan hukum harus tegas tapi belum tentu diandalkan karena banyak yang tidak percaya pada hukum.

“Bangsa Indonesia paling plural dan paling toleran,” kata Jimly.

Sementara itu, budayawan Mudji Sutrisno mengatakan, yang berkelahi di tengah kalangan elite sendiri. “Mari kembali ke jalan kebudayaan ini. Peradaban adalah humanisasi dari proses politik, ekonomi dan kesejahteraan bangsa ini,” ungkapnya.

“Kita punya tradisi kebudayaan yang berubah, lisan, tulisan dan digital yang saling tabrakan,” tambahnya.

Hadir dalam acara tersebut, Ketua MPR RI Zulkifli Hassan, dua wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid dan E.E Mangindaan, serta Jenderal (Pur) Try Sutrisno.

Selain menampilkan para undangan dari tokoh nasional, tokoh agama, juga hadir dari kalangan budayawan, tokoh adat dan suku.

Dari kalangan tokoh budayawan dan tokoh agama diantaranya hadir, Benny Susetyo, Romo Benny, Bachtiar Nashir, Jaya Suprana, HS Dillon, Sandyawan Sumardi, Franz Magnis Suseno, serta Uung Sendana, ketua Matakin dari perwakilan Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia. (RMOL)

Subscribe to receive free email updates: