Adsense Header

Matahari di Finlandia Bisa Bersinar 23 Jam, Ini Penjelasannya

Pada Selasa (30/5/2017), umat Islam di seluruh dunia telah menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan pada hari ke-4. Lamanya waktu puasa ditandai sejak terbitnya matahari di ufuk timur hingga tenggelam di ufuk barat.

Meski demikian, tidak semua negara mengalami waktu puasa yang sama. Umat Islam di negara Skandinavia, misalnya, menghabiskan waktu lebih lama dibandingkan dengan Indonesia.

Laplandia, sebuah provinsi di Finlandia, bahkan menjalankan puasa selama 23 jam 5 menit. Di daerah dekat kutub utara itu, matahari hanya tenggelam selama 55 menit. Sementara itu, umat Islam di Kepulauan Komoro, Afrika mungkin mendapatkan "keberuntungan" dengan waktu puasa tersingkat selama 12 jam 45 menit.

Mengapa waktu lamanya berpuasa tidak seragam? Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan, perbedaan lamanya waktu puasa disebabkan oleh perbedaan posisi bumi terhadap matahari. Hal itu terjadi akibat kemiringan sumbu rotasi bumi.

"Pada bulan Juni, matahari berada pada posisi paling utara. Ini menyebabkan siang hari di wilayah utara paling panjang. Daerah dekat kutub bisa mengalami matahari yang tidak pernah terbenam," kata Thomas melalui pesan singkat yang diterima Selasa (30/5/2017).

Thomas menuturkan, posisi matahari akan berubah pada bulan berikutnya. Saat Desember 2017, matahari berada pada titik di paling selatan. Akibatnya, daerah paling utara mengalami siang hari terpendek. Bahkan, menurut Thomas, matahari tidak terbit di daerah dekat kutub Utara.

"Pada bulan Juni, siang terpendek ada di Chile," ucap Thomas menambahkan.

Jika bulan Ramadhan terjadi pada bulan Desember dalam kalender Masehi, maka daerah yang mengalami waktu siang terpendek dan terpanjang akan berubah. Beruntung, waktu berpuasa di Indonesia tidak mengalami perbedaan waktu ekstrem karena berada di daerah tropis dan dilintasi garis ekuator.

Subscribe to receive free email updates: