Adsense Header

NAHLO! KPK Mengaku Belum Tahu Apakah Ada Peran Amien Rais Dalam Proyek Kemenkes

Arahkompas.com - Komisi Pemberantasan Korupsi tegaskan tak ada tendensi politik apapun dalam menjalankan tugasnya melakukan pemberantasan korupsi. Penegasan ini dikatakan, menyusul adanya reaksi negatif dari kubu Amin Rais, pasca terungkapnya nama tokoh nasional tersebut terailiri duit Rp 600 juta dalam sebuah kasus tindak pidana korupsi.
Juru bicara KPK Febri Diansyah
‘’KPK hanya fokus pada fakta hukum,’’ tegas juru bicara KPK Febri Diansyah ketika dikonfirmasi JawaPos.com, di Jakarta, Sabtu (3/6).

Terungkapnya nama mantan Ketua Umum Muhammadiyah tersebut dalam sidang tuntutan perkara Siti Fadilah, bukan dalam rangka mendiskreditkan nama Amin Rais. Namun, memang karena ada fakta hukum adanya pentrasferan antara perusahaan sub kontraktor pelaksana proyek pengadaan Alkes dengan para pihak.

Fakta hukum tersebut yakni adanya rekening koran pentransferan dari bendahara Sutrisno Bachir Foundation (SBF) atas nama Yurida Adlani ke Amin Rais dan beberapa pihak lain. Penstransferan bersumber dari rekening bendahara SBF yang mendapat penstransferan dari PT. Mitra Medidua subkon PT. Indofarma yang jadi suplier Alkes saat itu.

‘’Penguraian rangkaian peristiwa, mulai proses penunjukan langsung, pekerjaan proyek,komunikasi antara sejumlah pihak, pembayaran hingga aliran dana, tentu penting diuraikan penuntut umum sebagai upaya pembuktian kasus ini secara keseluruhan, ‘’ jelasnya.

Namun kendati menyebut adanya beberapa transferan dari pihak perusahaan penggarap proyek, KPK belum menelisik lebih jauh, apakah ada peranan Amin Rais maupun Sutrisno Bachir dalam mengegolkan proyek Kemenkes. KPK hanya fokus membuktikan adanya tranfer dari PT. Mitra Medidua Subkon dari PT. Indofarma ke Sutrisno Bachir Foundation (SBF), yang mana Ketua SBF adalah Nuki Syahrun adik ipar SB dan Nuki Syahrun yang meminta proyek itu dari awal ke terdakwa SFS untuk dikerjakan PT. Indofarma.

Nuki Syahrun sendiri adalah teman anak terdakwa SFS, dan juga pihak yang termasuk mendapat transferan lewat rekening bendahara SBF tesebut.

‘’Fokus penuntut umum masih pembuktian perbuatan dan kesalahan terdakwa, ‘’ tukasnya.

Sementara itu, ketika disinggung kenapa baru diungkap di persidangan, sementara di tingkat penyidikan tidak pernah ditelisik sama sekali. Febri menjelaskan, bahwa fakta tersebut muncul setelah di tahap penuntutan.’’ Di beberapa saksi di persidangan hal tersebut muncul, ‘’ katanya.

Sebelumnya dalam sidang perkara kasus dugaan korupsi terdakwa Siti Fadilah Supari, nama Amin Rais, Sutrisno Bachir, dan beberapa orang yang berafiliasi dengan PAN terungkap mendapat kucuran duit dari perusahaan penggarap proyek pengadaan alat kesehatan (Alkes) yang sudah menjadikan siti sebagai terdakwa. Amin Rais terungkap teraliri duit Rp 600 juta dalam 6 kali pentransferan, sementara Sutrisno Bachir sebesar Rp 250 juta.

Adapun rinciannya, uang senilai Rp 250 juta ditransfer ke rekening Sutrisno Bachir pada 26 Desember 2006, kemudian uang senilai Rp 50 juta dikirim ke rekening Nuki Syahrun pada 15 Januari 2007 dan 1 Mei 2007 sebesar 15 juta, lalu uang senilai Rp 600 juta dikirim ke Amin Rais dengan cara dikirm sebanyak 6 kali, yakni pada P,ada 15 Januari 2007, Pada 13 April 2007, Pada 1 Mei 2007, Pada 21 Mei 2007, Pada 13 Agustus 2007 dan pada Pada 2 November 2007. Selain itu ada juga uang dikirim Yurida ke rekening anak Siti,Tia Nastiti sebesar Rp10 juta. (JAW)

Subscribe to receive free email updates: