Adsense Header

Perjalanan "Cryosurgery" dari Zaman Firaun hingga Yana Zein

Jika keputusan Angelina Jolie melakukan masektomi mempopulerkan pengaruh faktor genetik pada perkembangan kanker payudara, kematian Yana Zein memberikan pengetahuan kepada publik tentang cryosurgery, upaya membunuh sel kanker dengan gas cair ekstrem dingin.

Sisi lain cryosurgery yang perlu diketahui, selain soal teknis pelaksanaan, manfaat, dan risikonya, adalah tentang sejarahnya. Perawatan yang kini biasa dilakukan dengan nitrogen cair bersuhu -160 derajat celsius itu ternyata punya sejarah panjang.

Brian J Simmons dari Miller School of Medicine di University of Miami dalam makalahnya di JAMA Dermatology pada Juni 2016 menyatakan, " cryosurgery setua Firaun." Papirus Edwin Smith mengungkap, Mesir Kuno memahami cara meredakan sakit akibat tulang retak dan mengobati infeksi dengan sesuatu yang dingin.

Pakar sejarah Mesir Kuno, Jame Henry Breasted, yang menerjemahkan papirus menyatakan, ada satu kalimat yang menggambarkan pengetahuan itu. "Anda dapat mengompres dengan dingin untuk mengatasi pembengkakan pada mulut luka," demikian kalimat dalam papirus.

Simmons mengungkapkan, pada abad ke-5 SM, pasukan Hannibal mengalami efek kerusakan jaringan saat melintas pegunungan Alpen. Lalu, pada masa Napoleon, pendekatan serupa dengan cryosurgery digunakan untuk pembiusan dan amputasi.

Cryosurgery modern baru mulai berkembang setelah James Arnott, seorang dokter dari Inggris, menemukan cara membuat suhu ekstrem dingin. Ia menggerus es dan mencampurkannya dengan sodium klorida, menciptakan cairan bersuhu -24 derajat celsius.

Arnott lantas merancang alat yang terdiri dari dua selang fleksibel yang terhubung dengan tabung berisi cairan ekstrem dingin. Dengan alat itu, ia mengobati kanker payudara dengan cara mengalirkan cairan dingin ke luka akibat kanker.

SM Cooper dari Churchill Hospital di Oxford dalam publikasinya di JAMA Dermatology Juni 2001 menguraikan, Arnott merawat ragam jenis kanker, kulit hingga rahim. Meski yang dilakukan saat itu berfungsi paliatif, Arnott percaya sejak awal bahwa pendekatan yang dikembangkannya bisa mengobati kanker sejak awal.

Perkembangan cryosurgery berlanjut ketika pada malam natal tahun 1877, fisikawan Perancis Louis Paul Cailletet, mendemonstrasikan gas oksigen dan karbon dioksida bisa diubah menjadi cair dengan tekanan tinggi.

Pada saat yang hampir bersamaan, Raoul Pictet dari Swiss juga berhasil mengubah oksigen menjadi gas cair dengan proses yang berbeda. Gas cair lantas menjadi umum ketika pada tahun 1895 fisikawan jerman, Carl von Linde menemukan cara memproduksi gas cair secara massal.

Tiga tahun setelah keberhasilan von Linde, dokter dari New York bernama Campbell White untuk pertama kalinya menggunakan gas cair ekstrem dingin untuk mengobati lupus, herpes, dan epithelioma, sejenis tumor pada kulit.

Dia sukses mengobati epithelioma. White mengatakan dengan percaya diri, "Saya bisa benar-benar mengatakan hari ini bahwa saya percaya epithelioma yang diobati sejak awal perkembangannya dengan gas air akan bisa dibasmi atau disembuhkan."

JT Bowen, dokter lain di Amerika Serikat, dalam publikasi hasil risetnya pada tahun 1907 menunjukkan bahwa penggunaan gas cair untuk perawatan epithelioma setelah satu kali radioterapi lebih efektif dibandingkan melakukan radioterapi berulang kali.

Gas cair hanya salah satu agen pendingin yang berkembang. Tahun 1935, dokter dari Chicago bernama William Pusey mempopulerkan penggunaan es karbon dioksida. Agen tersebut menjadi alternatif karerna gas cair masih sulit didapatkan.

Es karbon dioksida lebih mudah didapatkan karena berkembangnya industri air mineral dan bisa diubah jadi beragam bentuk. Pusey untuk pertama kalinya menggunakan es karbon dioksida untuk mengobati naevus, sejenis tanda lahir berupa kulit hitam dan berambut, dan berhasil.

Sebelum Pusey, Hall Edwards pada tahun 1911 mengembangkan perangkat yang mendukung pemakaian es karbon dioksida. Ia memublikasikan temuannya di jurnal The Lancet bersamaan dengan keberhasilan Cranston-Low, dokter dari Edinburgh, mengatasi ragam masalah kulit, termasuk karena kanker.

Hingga pertengahan abad 20, selain sejumlah kemajuan, ilmuwan berdebat tentang efektivitas agen pendingin. Kebanyakan ilmuwan berpendapat bahwa cryosurgery untuk tujuan apapun lebih efektif dilakukan dengan gas cair walaupun ketersediaannya terbatas.

Kemajuan besar terjadi pada tahun 1950. Herman V Allinton untuk pertama kalinya menggunakan nitrogen cair untuk cryosurgery. Ia menyadari bahwa agen itu jauh lebih berpotensi sebab mampu menciptakan suhu lebih dingin dibanding oksigen cair.

Nitrogen cair yang hingga kini menjadi agen pendingin paling populer menemukan pasangannya berkat temuan Irving S Cooper. Ia mengembangkan perangkat untuk mengantarkan nitrogen cair bersuhu hingga -196 derajat celsius.

Cooper melakukan riset kontroversial pada zamannya, mencoba mengatasi Parkonson dengan membekukan thalamus, salah satu bagian otak. Meski awalnya banyak diperdebatkan, riset Cooper memacu penggunaan nitrogen cair di dunia kedokteran.

Tahun 1967, Sterag A Zacarian mengembangkan Kyrospray yang berguna untuk mengatasi beragam masalah kulit. Ia juga mengembangkan perangkat untuk mengantarkan nitrogen cair yang lebih maju dari Cooper, bisa menembus hingga kedalaman 7 mm di bawah permukaan kulit.

Setelah Zacarian, banyak riset agen pendingin tetap dilakukan. Namun, banyak ilmuwan lebih menaruh perhatian pada upaya mengatasi berbagai jenis penyakit dengan cryosurgery. Saat ini, riset cryosurgery dan kanker payudara, prostat, dan ginjal banyak dilakukan.

Yana Zein dan siapa pun yang menikmati cryosurgery saat ini pasti menggunakan teknologi yang jauh lebih maju. Cryosurgery saat ini mampu menarget sasaran lebih tepat dengan bantuan Magnetic Resonance Imaging (MRI), memastikan, misalnya, jaringan yang dibekukan adalah jaringan kanker.

Pendekatan cryosurgery kini bahkan digunakan dalam dunia keolahragaan. Klub sepak bola Leicester City punya Cryotherapy Unit yang membantu atlet menyembuhkan cedera. Setelah latihan, atlet tidak ke sauna, tetapi memakai kostum khusus dan menghabiskan waktu di fasilitas cryotherapy bersuhu -135 derajat celsius.

Kasus Yana zein dan cryosurgery yang dijalaninya memberi gambaran bahwa sains dan teknologi tidak dihasilkan secara singkat. Riset demi riset, yang umumnya tidak hanya dilakukan oleh satu ilmuwan dari satu negara, harus dilakoni hingga bisa menciptakan teknologi mumpuni.

Subscribe to receive free email updates: