Adsense Header

Situasi Ekonomi Tak Menentu, Kok Bank BUMN Malah Gelontorkan Dana Ke Calo Tambang?

Arahkompas.com - Di tengah situasi politik dan ekonomi nasional yang memanas, bank-bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) malah menggelontorkan dana kepada para calo sektor tambang.

Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng mengungkapkan, dalam situasi Indonesia saat ini, ada upaya untuk membangkrutkan bank-bank milik negara.

Menurut dia, Non Performing Loan (NPL) sektor perbankan sedang sangat buruk. Berada di atas ambang batas yang ditetapkan oleh Basel III. Pemicu buruknya NPL adalah utang sektor pertambangan yang NPL-nya mencapai 6%.

"Namun dalam situasi panas ini ada yang tengah melakukan spekulasi gila yakni bank-bank milik pemerintah dengan mengalokasikan uang kepada pada calo saham sektor pertambangan," ujar Salamuddin Daeng, baru-baru ini.

Dia menyebut, ada tiga bank pemerintah yakni PT Bank Mandiri, PT Bank BNI, PT Bank BRI, yang mengalokasikan pinjaman dalam jumlah raksasa kepada Medco, perusahaan milik Arifin Panigoro, untuk membeli saham perusahaan tambang senilai 2,6 miliar dolar amerika di Nusa Tenggara Barat.

Saham tambang tersebut milik Newmont sebesar 48 persen dan mitranya milik Aburizal Bakrie sebesar 24 persen.

"Pembelian saham yang ditenggarai illegal, melanggar Undang Undang Minerba, melanggar Kontrak Karya (KK) dan banyak menyisakan masalah ketenagakerjaan serta lingkungan hidup," ujar Daeng.

Dia menyampaikan, ketiga bank milik pemerintah tersebut beberapa waktu lalu mengambil pinjaman senilai 3 miliar dolar amerika.

"Katanya untuk membangun infrastruktur. Faktanya malah membiayai calo saham Arifin Panigoro. Pertanyaannya, mengapa bukan Arifin Panigoro sendiri yang meminjam ke Cina?" ujar Daeng.

Di tengah resiko kredit pertambangan yang tinggi, menurut dia, tindakan tiga bank BUMN adalah tindakan paling gila yang dilakukan sebuah bank di masa pemerintahan Jokowi.

Mengapa dikatakan demikian? Alokasi kredit dalam jumlah besar diduga tanpa studi kelayakan yang jelas.

"Ini adalah transaksi yang tidak masuk akal di tengah jatuhnya harga komoditas tambang emas perak dan tembaga," ujar Daeng.

Lagipula, lanjut dia, dasar pembelian saham ini adalah deposit tambang di lokasi pertambangan baru milik Newmont namanya Elang Dodo, yang berlokasi sekitar 90 kilo meter dari lokasi pertambangan lama Batu Hijau.

"Padahal lokasi ini adalah lokasi konflik. Newmont sendiri gagal melakukan explorasi katena camp dibakar massa," ujar Daeng.

Sementara, cadangan deposit Elang Dodo belum jelas. Menjadi pertanyaan besar juga, sebab perlawanan masyarakat di sana terhadap tambang terus menyala. Bagaimana mungkin bank BUMN membiayai kredit dengan resiko sedemikian besar?

"Publik tahu bahwa transaksi pembelian saham Newmont tidak terjadi dalam situasi yang normal. Newmont sendiri tengah dililit utang yang besar dan terancam bangkrut. Penyebabnya adalah jatuhnya harga komoditi tambang," ujar Daeng mengingatkan.

Lalu bagaimana mungkin bank  pemerintah berani membiayai pembelian saham perusahaan tambang dalam turbulensi semacam ini?

"Lagi pula, kredit diberikan kepada calo yang pengalamannya akusisi saham tambang minyak? Para petinggi bank BUMN maksudnya apa ya? Jangan jangan ada gajah di balik batu," pungkas Salamuddin Daeng. (RMOL)

Subscribe to receive free email updates: