Adsense Header

Olahraga Jadi Alternatif Penangkal Penyebaran Nilai Radikal

Nilai-nilai yang terkandung dalam olahraga seharusnya bisa menjadi alternatif penangkal masuk-masuknya ajaran-ajaran radikal melalui kurikulum sekolah.

Hal ini diungkap oleh mantan atlet sekaligus Olimpian, Richard Sam Bera menanggapi kekahawatiran masuknya nilai-nilai radikal melalui  pelajaran formal dan pendidikan ekstra kurikuler di sekolah.

Bagi Richard, olahraga mengandung nilai-nilai positif  yang akan mampu membuat  murid sekolah menyadari eksistensinya sebagai bagian dari komunitas yang lebih besar.

"Nilai-nilai mengejar yang terbaik, persaingan, rule of the game, sportivitas menjadi nilai yang baik yang diterima si individu pelajar," kata Richard di Jakarta. "Kemudian team work, kepatuhan pada pelatih dan hal lainnya melatih dia menjadi individu yang bisa menempatkan diri pada lingkungannya."

Richard yang  pernah menjadi raja renang gaya bebas di Asia Tenggara menyayangkan semakin sedikitnya porsi mata pelajaran pendidikan jasmani di sekolah.  Ia membandingkan dengan apa yang dijalankan di Singapura.

"Di Singapura, sekolah umum memberikan olah raga renang dan atletik menjadi hal yang wajib karena dapat menjadi skill dasar setiap pelajar," kata Richard. "Karena sekolah merupakan sumber calon atlet terbesar, maka klub-klub olah raga menjadi lebih mudah untuk mendapatkan calon atlet untuk dibina secara benar."

Richard merasakan sendiri bagaimana keberhasilan sistem rekrutmen yang dilakukan Singapura, terutama untuk olahraga renang. "Saya membela Indonesia sekian lama, dan sepanjang masa itu saya sudah melawan tiga generasi atlet renang Singapura," katanya.

Bagi Richard, dengan menekuni olahraga, tak ada waktu  bagi pelajar untuk terpengaruh dengan nilai-nilai radikal yang sekarang menjadi momok buat banyak orang tua di Indonesia. "Kita kan juga mendapatkan nilai-nilai cinta atau bela negara dari mata pelajaran lain, nah olahraga merupakan penerapan yang paling mudah dan riil," kata Richard.

"Semua dapat dirasakan sendiri oleh si pelajar. berlatih keras untuk prestasi maksimal, bekerjasama dengan anggota tim lainnya dan terutama menumbuhkan rasa sense of belonging," katanya. "Pertama tentu membela almamater, jenjang berikut membela daerah dan puncaknya tentu membela negara. Ini bisa dilakukan di tingkat mana pun, sejak Popda hingga Olimpiade nantinya yang paling tinggi."

Richard mengakui, untuk kembali ke situasi di mana olahraga menjadi salah satu pembentuk karakter nasion, tentu butuh waktu. "Yang penting tentunya lewat undang-undang, apakah itu kebijakan pemerintah dll. Kita butuh sarana, kita butuh kerjasama lembaga terutama Kemenpora dan kemedikbud untuk hal ini," katanya.

"Sistem pendidikan nasional kita lebih mempersiapkan lulusan SMA/SMK menajdi tenaga siap kerja. Berbeda dengan Singapura yang mempersiapkan pelajar masuk ke pendidikan tinggi. Akibatnya beban pelajaran anak SMA/SMK di sini menajdi sangat berat. Bayangkan, di SMA sini murid sudah diajarkan akunting, sesuatu yang di negara lain baru diajarkan pada pendidikan tinggi."

Persoalan lain, tentunya fasilitas.  Banyak sarana dan prasarana olahraga yang sudah menghilang atau beralih fungsi. "Sekarang kalau renang menjadi kurikulum wajib di sekolah dasar saja, sanggup tidak kolam renang di Jakarta atau daerah menampung mereka?  Atau misalnya sepakbola atau atletik diwajibkan di sekolah? Ada tidak lapangannya?"

Hal lain yang penting bagi Richard adalah jaminan kehidupan  buat atlet atau penggiat olah raga. "Sekarang ini, ketika seorang pelajar menekuni olahraga sebagai atlet, ia megorbankan banyak hal termasuk materi, waktu dan kehidupan sosial. Sementara apa yang diterimanya dari pengorbanan itu  boleh dibilang tidak ada. Penghargaan dari sekolah masih langka," kata Richard.

Ia menganggap gagasan untuk memberi pensiun kepada atlet berprestasi merupakan satu langkah baik. Atau juga kemudahan pemberian beasiswa dan kesempatan kerja buat mereka. "Setidaknya buat orang tua atlet, mereka jadi tahu apa yang menjadi tujuan anak-anaknya berlatih. Cinta buat negara memang penting, tetapi negara juga harus memberi penghargaan serupa buat mereka yang telah menunjukkan cinta mereka."

Subscribe to receive free email updates: